Hasil Diskusi dan Pendapat Saya
Rabu, 13 Mei 2020
Diskusi tiga teks opini
Hasil Diskusi:
1) Teks 1
Genangan
Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 6 Jan 2018)
Banjir dan genangan adalah dua kata yang selalu muncul di media massa saat musim hujan. Perbedaan kata ini pernah ramai dibahas tahun 2015 saat Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan. Warganet pun tersentak dan riuh. Masak air setinggi 70 sentimeter disebut genangan?
KBBI IV mendefinisikan danau sebagai ’kumpulan genangan air yang luas yang dikelilingi oleh daratan’.
2) Teks 2
Maksud dan Niat
Bambang Kaswanti Purwo* (KOMPAS, 25 Maret 2017)
Samakah makna kedua kata ini: maksud dan niat? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyamakan keduanya. Salah satu makna kata maksud adalah ’niat, kehendak’ dan makna kata niat ’maksud, kehendak’. Kesinoniman kedua kata itu tampak saat digunakan berkalimat. Masing-masing dapat saling menggantikan. Di KBBI pun contohnya persis sama: maksud/niat baik.
Bagaimana perbedaan kedua kata itu? Kamus dan tesaurus di atas menyebutkan kekhasan masing- masing kata itu. Pada larik terakhir tertera: niat adalah ’intention’ yang bernuansa ’kaul, nazar’ atau ’janji pada diri sendiri’. Dengan mengatakan ”Niat saya tahun depan akan [....]”, si penutur menyampaikan resolusi, tekad untuk dilaksanakan.
1) Teks 3
Kata-Kata yang Memuai
Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 12 Jun 2017)
Arti kata “drama” dalam bahasa percakapan telah memuai dan menggelembung menampung arti lain yang tak dimiliki kata lain. “Drama” dalam kalimat “dia mah orangnya suka drama” berarti orang itu suka melebih-lebihkan situasi yang biasa saja menjadi dramatis. Entah karena pengaruh sinetron yang memang acap melebih-lebihkan peristiwa biasa saja, kata “drama” diterima dalam percakapan publik (baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia) dengan arti sebagai orang yang gemar mendramatisasi keadaan. “Drama” sebagai kata benda yang tercantum dalam kamus berubah menjadi kata kerja dalam percakapan.
Ketiga teks tersebut sama-sama memilihi kata yang memiliki maksud dan arti yang beda seperti yang telah disebutkan pada teks dapat menimbulkan salah paham. Teks opini tersebut memiliki makna tersurat dan tersirat pada masalah apa yang dibahas. Maksud pemahaman teks pun akan berbeda pada setiap orang. Kata tidak baku boleh saja dipakai dalam penulisan opini selama kaidah penulisannya benar.
Maka dari itu agar tidak terjadi kesalah pahaman perihal arti atau maksud dari kata yang mengalami pemuaian tadi ada baik nya kita menggunakan ejaan KBBI yang baik dan benar dalam situasi formal seperti rapat, pidato formal, konferensi dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan kata tidak masuk KBBI itu sendiri adalah kata yang tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia itu sendiri dapat berarti kata yang tidak baku, seperti halnya kata gaul yang banyak digunakan pada percakapan nonformal, seperti gabut, mager dan kata dari bahasa asing yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena bahasa sendiri memiliki banyak kata yang mengalami pemuaian, sah-sah saja apabila digunakan dalam situasi nonformal seperti berbicara dengan teman semeja agar komunikasi terkesan tidak kaku. Karena tujuan utama dari komunikasi adalah menciptakan pemahaman Bersama antara orang yang berbicara dengan orang yang mendengarkan.
Pendapat saya:
Dari ketiga teks opini tersebut memperliatkan bahwa makna kata dalam Bahasa Indonesia banyak yang memiliki kata sama namun arti dan maksud yang berbeda. Kata sama tersebut disesuaikan dengan kalimat sebelum dan sesudahnya dan juga konteks permasalahan yang dibahas agar tidak terjadi pemaknaan yang salah. Maka dari itu untuk mengetahui makna sebuah teks perlu membaca terlebih dahulu isi seluruh teks nya.
Comments
Post a Comment